Konflik yang terjadi di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC) kini semakin memburuk, dengan ancaman terhadap stabilitas nasional dan keamanan regional. Wilayah Ituri dan provinsi Kivu, yang sebelumnya menjadi sumber ketegangan antara komunitas Hema dan Lendu, kini mengalami eskalasi kekerasan yang mengancam jutaan penduduk. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah pengungsi yang melarikan diri dari konflik ini meningkat drastis, dengan lebih dari 57.000 orang melintasi perbatasan ke Uganda.
Eskalasi Kekerasan di Wilayah Ituri dan Kivu

Pertempuran antara komunitas Hema dan Lendu telah berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi situasi memburuk pada akhir tahun 2024 hingga awal 2025. Bentrokan yang meletus pada Desember 2024 menewaskan sedikitnya 130 orang, sementara sekitar 200.000 warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka memilih untuk melarikan diri melalui Danau Albert menggunakan perahu darurat, sebuah perjalanan berbahaya yang sering kali menyebabkan korban jiwa.
UNHCR mencatat bahwa akses pekerja bantuan ke wilayah Ituri sangat terbatas, sehingga sulit untuk memberikan gambaran lengkap tentang kondisi masyarakat setempat. Namun, data yang tersedia menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan semakin parah, dengan kebutuhan mendesak akan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Peran Kelompok Pemberontak M23

Salah satu faktor utama dalam eskalasi konflik adalah kembalinya kelompok pemberontak M23, yang diduga didukung oleh militer Rwanda. Pada Januari 2025, M23 berhasil merebut kota Goma, kota terbesar di timur DRC, yang memiliki populasi sekitar 1 juta orang. Penyerbuan ini memicu kekacauan besar, termasuk pengeboman terhadap kamp pengungsi dan serangan terhadap kedutaan besar negara-negara asing seperti Belgia, Belanda, Kenya, Uganda, dan Amerika Serikat.
Kekacauan diperparah oleh pembobolan penjara terbesar di Goma, yang menyebabkan lebih dari 4.000 narapidana melarikan diri. Situasi ini memicu kepanikan di kalangan penduduk, yang memilih untuk mengunci diri di dalam rumah demi keselamatan.
Akar Masalah: Sumber Daya Alam dan Politik Regional

Republik Demokratik Kongo dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, termasuk emas, timah, dan coltan—mineral yang dibutuhkan untuk produksi ponsel dan baterai kendaraan listrik. Namun, kekayaan ini justru memicu siklus korupsi dan pertumpahan darah antara kelompok bersenjata, milisi lokal, dan aktor asing yang bersaing untuk menguasai wilayah tersebut.
Selain itu, konflik juga dipengaruhi oleh dinamika politik regional, terutama hubungan antara DRC dan Rwanda. Pemerintah Rwanda secara terbuka menyangkal dukungan mereka terhadap M23, namun banyak laporan internasional menunjukkan bahwa mereka memang memberikan bantuan logistik, senjata, dan bahkan personel kepada kelompok pemberontak.
Dampak bagi Warga Sipil
Dampak terberat dari konflik ini dirasakan oleh warga sipil, yang terpaksa mengungsi dalam jumlah besar. Lebih dari 7 juta orang di DRC terpaksa meninggalkan rumah mereka, sementara organisasi hak asasi manusia melaporkan kekejaman yang meluas, termasuk pembantaian, kekerasan seksual, dan perekrutan tentara anak-anak.
Para pengungsi dari Kivu Utara di DRC Timur juga melarikan diri ke negara-negara tetangga, yang dikhawatirkan akan ikut memicu ketidakstabilan. Dunia internasional telah menjatuhkan sanksi kepada para gembong M23, beserta peringatan bagi Rwanda dan Uganda. Namun, tindakan segera masih diperlukan untuk mencegah konflik berubah menjadi tragedi berskala besar.
Apa yang Bisa Dilakukan?

Menurut pakar seperti Dr. Hassan Khannenje, Direktur Institut Internasional HORN untuk Studi Strategis, Rwanda tidak mungkin meninggalkan DRC dalam waktu dekat. “Rwanda telah, sedang, dan akan selalu terlibat dalam DRC. Negara ini memiliki kepentingan strategis dan nasional bagi Rwanda, jadi ini bukan hanya tentang mineral,” katanya.
Namun, ia menambahkan bahwa mineral cenderung memicu api. “Kelompok pemberontak yang bersaing memberikan ‘alasan tambahan untuk menduduki sebagian wilayah DRC.'”
FAQ
Apa penyebab utama konflik di DRC?
Konflik di DRC dipicu oleh persaingan untuk menguasai sumber daya alam, seperti emas, timah, dan coltan, serta dinamika politik regional, terutama hubungan antara DRC dan Rwanda.
Bagaimana dampak konflik terhadap warga sipil?
Warga sipil mengalami kekerasan, pengungsian massal, dan kebutuhan kemanusiaan yang mendesak, termasuk makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Apa peran Rwanda dalam konflik ini?
Rwanda dituduh mendukung kelompok pemberontak M23, meskipun secara terbuka menyangkalnya. Banyak laporan internasional menunjukkan bahwa mereka memberikan bantuan logistik dan senjata kepada pemberontak.
Apa yang bisa dilakukan dunia internasional?
Dunia internasional perlu memberikan bantuan kemanusiaan yang lebih besar, menegakkan sanksi terhadap pelaku kekerasan, dan memperkuat upaya diplomasi untuk menciptakan perdamaian di DRC.
Bagaimana prospek perdamaian di DRC?
Meski ada upaya perdamaian, seperti kesepakatan antara DRC dan Rwanda pada Juni 2025, konflik masih berlanjut. Keterlibatan aktor asing dan persaingan untuk sumber daya alam tetap menjadi tantangan besar.
Kesimpulan
Republik Demokratik Kongo kini menghadapi krisis yang mengancam stabilitas nasional dan keamanan regional. Eskalasi konflik di wilayah timur, terutama di Ituri dan Kivu, telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan pengungsian massal. Dengan peran aktif kelompok pemberontak seperti M23 dan dugaan keterlibatan Rwanda, situasi ini memerlukan tindakan segera dari pihak internasional dan pemimpin lokal. Tanpa solusi yang efektif, konflik ini berpotensi berubah menjadi tragedi berskala besar yang merugikan rakyat DRC dan wilayah Afrika tengah secara keseluruhan.












