Example 728x250
peristiwa internasionalpolitik global

Thailand Menghadapi Babak Baru Politik Pasca Reformasi Pemilu Nasional

9
×

Thailand Menghadapi Babak Baru Politik Pasca Reformasi Pemilu Nasional

Share this article

Thailand sedang mengalami transformasi politik yang signifikan setelah pemilu nasional 2023, yang menandai kemenangan partai progresif Move Forward Party (MFP). Namun, keberhasilan MFP tidak berlangsung lama. Mahkamah Konstitusi Thailand memutuskan untuk membubarkan partai tersebut, sementara Perdana Menteri Srettha Thavisin digulingkan dan digantikan oleh Paetongtarn Shinawatra, putri mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra. Keputusan ini mencerminkan dinamika politik yang rumit dan konflik antara demokrasi yang diinginkan rakyat dan dominasi oligarki serta militer.

Dinamika Politik Pasca Pemilu 2023

Thai Supreme Court building

Pemilu 2023 menjadi momen penting dalam sejarah politik Thailand. Partai Move Forward Party, yang memiliki visi reformis dan progresif, berhasil meraih suara terbanyak dengan 37,99 persen, menjadikannya sebagai partai pemenang. Namun, meskipun menang secara demokratis, MFP gagal menjadi pemerintah karena intervensi Mahkamah Konstitusi dan dominasi Senat yang dipilih oleh junta militer.

Keputusan Mahkamah Konstitusi untuk membubarkan MFP merupakan langkah yang memicu kontroversi. Partai ini dituduh berusaha menggulingkan monarki dengan rencana mereformasi UU Lese Majeste (Pasal 112), yang melindungi kerajaan dari kritik. Meski tidak mengejutkan, keputusan ini menunjukkan bahwa sistem politik Thailand masih sangat rentan terhadap intervensi hukum yang digunakan untuk membatasi partai-partai oposisi.

Kekuasaan Militer dan Oligarki Politik

Thai military officers

Sejak kudeta militer tahun 2014, Thailand telah terjebak dalam model demokrasi yang disebut “demokrasi ala Thailand”, di mana partai-partai yang sah sering kali dijatuhkan melalui mekanisme konstitusional. Konstitusi 2017 memberi kekuasaan besar kepada militer, termasuk pengangkatan 250 anggota Senat yang dipilih langsung oleh mantan junta.

Ini menciptakan ketidakseimbangan dalam sistem pemerintahan, di mana kekuasaan nyata tidak sepenuhnya ada di tangan rakyat. Partai seperti Future Forward Party (FFP) dan Move Forward Party (MFP) yang mewakili suara rakyat dan ingin melakukan reformasi sering kali dihancurkan melalui proses hukum atau intervensi politik.

Kepemimpinan Baru dan Tantangan yang Menghadang

Thai Prime Minister Paetongtarn Shinawatra

Setelah pembubaran MFP, Paetongtarn Shinawatra, putri mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, dilantik sebagai Perdana Menteri. Ia berasal dari Pheu Thai Party, partai yang didirikan oleh keluarga Shinawatra dan telah menjadi bagian dari sistem politik Thailand selama bertahun-tahun. Namun, koalisinya dengan partai konservatif dan pro-militer menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan kembali ke model pemerintahan yang tidak demokratis.

Paetongtarn akan menghadapi tantangan besar, termasuk menjaga keseimbangan antara kebijakan partai konservatif dan harapan rakyat yang ingin perubahan. Selain itu, ia juga harus menghadapi masalah ekonomi pasca-pandemi dan ketegangan sosial yang muncul akibat krisis politik.

Masa Depan Demokrasi di Thailand

Thai protesters holding signs for democracy

Meski krisis politik terus berlanjut, para analis percaya bahwa gerakan reformasi di Thailand tetap hidup, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Partai baru seperti People Party (PP) tampaknya ingin melanjutkan agenda reformis MFP, termasuk revisi UU Lese Majeste dan peningkatan hak-hak sipil.

Namun, tantangan utama adalah bagaimana memastikan bahwa proses demokratisasi tidak lagi dihambat oleh sistem yang dirancang untuk mempertahankan kekuasaan elit. Jika tidak ada perubahan struktural, Thailand akan terus menghadapi siklus krisis politik yang sama.

FAQ

Q: Apa yang menyebabkan pembubaran Move Forward Party?

A: Mahkamah Konstitusi Thailand memutuskan untuk membubarkan Move Forward Party karena dianggap berusaha menggulingkan monarki dengan rencana mereformasi UU Lese Majeste.

Q: Siapa yang menggantikan Srettha Thavisin sebagai Perdana Menteri?

A: Paetongtarn Shinawatra, putri mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, menggantikan Srettha Thavisin setelah ia digulingkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Q: Bagaimana masa depan demokrasi di Thailand?

A: Meskipun krisis politik terus berlanjut, gerakan reformasi tetap hidup, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Namun, tanpa perubahan struktural, Thailand akan terus menghadapi tantangan demokrasi.

Q: Apakah ada protes besar di Thailand setelah pembubaran MFP?

A: Sebagian analis percaya bahwa protes besar seperti pada 2020 tidak akan terjadi lagi, karena pihak berwenang telah mengambil tindakan keras terhadap pemimpin protes.

Q: Apa peran militer dalam politik Thailand?

A: Militer masih memiliki pengaruh besar dalam sistem politik Thailand, terutama melalui konstitusi 2017 yang memberi kekuasaan besar kepada Senat yang dipilih oleh mantan junta.

Kesimpulan

Thailand kini berada di ambang babak baru politik pasca-reformasi pemilu nasional. Meskipun kemenangan MFP menunjukkan harapan rakyat untuk perubahan, intervensi hukum dan dominasi oligarki menghalangi realisasi demokrasi yang sebenarnya. Dengan kepemimpinan baru dan tantangan yang menghadang, masa depan demokrasi Thailand masih gelap, namun harapan untuk perubahan tetap hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *